Home » , , , , , » Kemerdekaan Sejati

Kemerdekaan Sejati

Ditulis Oleh Admin pada Senin, 20 April 2015 | 08:56

Shirly J. George
Melihat kembali ke dalam hidup saya, tidaklah mungkin untuk saya menemukan Tuhan, kalau Dia tidak berkarya dalam hidup saya.

Saya lahir di dalam keluarga yang beragama Buddha dan bersifat netral terhadap Keristenan. Sahabat baik saya sejak berusia 7 tahun adalah seorang Kristen. Sejak kecil sahabat ini tanpa henti-henti akan memberitahu saya tentang kebaikan Allah. Dia sering memberitahu saya bahwa saya harus percaya pada Yesus dan menerimanya sebagai Juruselamat. Karena hal ini dia lakukan secara terus menerus, saya mulai merasa jengkel. Makin dia memberitakan tentang Kekristenan kepada saya, semakin saya memberontak dan tidak senang dengan topik itu. Suatu hari, saya tidak dapat mengendalikan emosi saya dan meledak dalam amarah dan memberitahunya untuk tidak lagi membagikan dengan saya tentang agamanya. Saya berkata, "Saya orang Buddha, saya punya Tuhan saya sendiri, kenapa kamu terus memberitahu saya tentang Tuhan kamu?? Saya tidak berminat dengan Tuhan kamu!!"

Sejak itu, dia tidak lagi berusaha untuk membagikan dengan saya tentang Tuhannya. Namun, kami tetap bersahabat hanya saja topik agama merupakan topik yang sensitif. Kami bisa bercerita tentang apa saja kecuali masalah agama. Di tahun 2004, teman saya dibaptis dan saya berusia 18 tahun pada waktu itu. Dia mengundang saya ke gerejanya untuk menyaksikan acara baptisannya. Saat saya pertama kali menginjakkan kaki ke gedung gereja, saya hampir tersandung dan jatuh. Jadi kesimpulan saya adalah, Gereja itu tempat yang sial bagi saya, karena pertama kali masuk sudah hampir terjatuh. Tetapi sekarang saat saya memandang kembali, apakah mungkin sebenarnya saya sudah hampir jatuh tetapi Allah yang menopang saya dan mencegah saya dari jatuh?

Sekitar satu tahun setelah itu, sahabat baik saya ini memberikan kepada saya satu Alkitab. Ada orang yang membagi-bagikan secara gratis di depan sekolah. Sahabat saya mengambil beberapa dan memberikan satu kepada saya. Dengan nada keras saya memberitahunya untuk memberikan kepada orang lain saja karena saya tidak mungkin akan membacanya. Namun dia bersikeras saya harus mengambilnya dan meminta saya untuk membaca catatan yang dia tuliskan di halaman depan Alkitab itu. Dengan tulisannya yang cantik, dia menulis, "Di saat kesusahan, kebingungan dan apa saja, bukalah Alkitab dan Anda akan menemukan segala jawaban bagi persoalan Anda." Dia mencatatkan satu referensi ayat di situ. Saya bahkan tidak peduli untuk menyimak ayat tersebut. Saya terpaksa membawa pulang Alkitab itu tetapi saya dengan sengaja menempatkan di tempat yang paling tinggi di rak buku karena saya tahu saya tidak akan pernah membacanya.

Tetapi kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan perkiraan kita. Sekitar satu setengah bulan setelah itu, sesuatu terjadi di dalam keluarga saya. Sebelum saya melanjutkan, biarlah saya menjelaskan tentang latar belakang keluarga saya. Keluarga saya sangat akrab dengan kuasa kegelapan karena kakek dan ayah saya mempraktikkan ilmu gelap. Mereka mengklaim ilmu yang mereka praktikkan itu dapat membantu dan menyembuhkan orang. Tentu saja, semua hal itu berhubungan dengan dunia roh. Selalu ada harga yang perlu dibayar saat kita memanfaatkan kekuatan dari roh-roh ini. Hari yang kami takuti di dalam keluarga kami adalah tanggal ke-15 setiap bulan menurut kalendar lunar. Di hari bulan purnama itu, Ayah saya itu tidak lagi ayah saya. Di luar hari itu, ayah saya seorang yang pengasih dan penyayang, tetapi khas untuk hari ke-15 setiap bulan, dia bukan dirinya sendiri. Semua anggota keluarga sangat takut akan tanggal ke-15 itu. Tetapi dengan berjalannya waktu, kami menjadi terbiasa, namun tentu saja kami masih agak ketakutan. Kami tahu kami tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerimanya saja. Jadi satu setengah bulan setelah saya menerima Alkitab dari sahabat saya, tanggal ke-15 menurut kalendar lunar itu tiba. Kali itu, lain dari biasa, ayah saya mengamuk besar. Ibu dan saudara saya semuanya dipukul kecuali saya. Bisa dikatakan saya aman dari kekerasan fisik tetapi siksaan emosional itu jauh lebih parah dari siksaan fisik. Setelah ayah saya selesai mengamuk, saya duduk di dalam kamar saya merasa sangat tidak berdaya dan tidak tahu apa yang dapat saya lakukan. Yang saya rasakan adalah saya sedang berada di bawah perbudakan, terpenjara di dalam rumah saya sendiri dan tidak ada apa-apa yang dapat saya lakukan melainkan untuk bertahan melewatinya. Saya lagi di SMA pada waktu itu dan saya tidak sabar untuk menyelesaikan sekolah saya dengan nilai yang bagus agar dapat melanjutkan kuliah ke tempat yang jauh dari keluarga saya. Saya tidak dapat melapor ke polisi atas kekerasan yang telah terjadi karena apa yang terjadi bukanlah sesungguhnya salah ayah saya. Dia sedang kerasukan oleh roh-roh jahat dan dia sendiri tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.

Saat saya sedang duduk sendirian di kamar, merasa putus asa tiba-tiba saya teringat dengan apa yang dituliskan oleh sahabat saya di Alkitab yang dia berikan kepada saya. Saya teringat pada kata-kata yang ditulisnya, tentang saya dapat menemukan jawaban kepada persoalan saya kalau saya membaca Alkitab. Jadi saya mengambil kursi dan mendiri di atasnya untuk mengambil Alkitab yang berada jauh di atas rak buku saya. Setelah memegang Alkitab di tangan saya, saya masih agak ragu-ragu apakah saya harus membacanya. Akhirnya saya memberanikan diri untuk membukanya dan membaca kembali tulisan sahabat saya dan kali ini saya menyimak ayat yang dituliskan di bawah. Ayat itu diambil dari Yeremia 33.3, “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui." Ayat ini mendorong saya untuk terus membolak balik Alkitab. Sambil saya membolak balik halaman Alkitab itu, saya bertanya pada Tuhan asing ini di bagian mana saya dapat menemukan jawaban bagi persoalan saya.

Alkitab yang diberikan kepada saya itu mempunyai terjemahan Bahasa Inggris dan Indonesia. Saya membolak balik secara acak dan tangan saya terhenti di terjemahan bahasa Indonesia yang mempunyai kalimat "tidak ada lagi perhambaan". Kata perhambaan berarti tidak lagi diperbudak. Ayat itu di Galatia 4. Keempat kata itu membuat saya tersentak, karena itulah yang sedang saya cari. Saya mendambakan pelepasan dari perhambaan kepada siksaan emosional, dan sangat rindu untuk dilepaskan dari kehidupan yang dipenuhi oleh air mata.

Ternyata Tuhan sahabat saya ini dapat melepaskan saya dari ikatan yang membelenggu saya, dari ikatan yang sedang memperbudak saya. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi secara mendadak saya merasa bebas. Saya merasa sudah menemukan jawaban yang sedang saya cari. Saya berlutut di dalam kamar dan menangis. Buat pertama kali di dalam hidup, saya mencurahkan isi hati kepada Allah sahabat saya ini. Di waktu itu, saya tidak tahu bagaimana orang Kristen berdoa, yang terjadi adalah air mata saya mengalir terus dan saya berlutut di sana. Saya merasakan Tuhan telah melepaskan belenggu yang merantai saya dan ikatan yang saya rasakan dalam hati sudah dileraikan. Ayat itu yang menyentuh saya itu adalah ayat di Galatia 4.7, "Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah." Saya menerima janji bahwa saya dapat menjadi anak Allah dan Allah akan melindungi saya. Saya tidak perlu takut lagi pada ayah saya saat dia kerasukan dan menyiksa kami. Terdapat suatu pelepasan yang sejati. Suatu kemerdekaan yang saya rasakan.

Keesokan harinya saya ke sekolah dan menceritakan pengalaman saya kepada sahabat saya. Sahabat saya sangat takjub dengan apa yang sudah Tuhan kerjakan. Di antara semua teman-teman yang dia mau jangkau, saya termasuk yang berada di akhir daftarnya. Dia telah mengenal saya selama 12 tahun dan dia sudah tahu cara saya berfungsi, jadi tak pernah terlintas di pikirannya saya akan tiba pada pengenalan akan Allah. Sahabat saya sangat terhibur dengan apa yang telah Tuhan kerjakan. Dia mulai membawa saya untuk ke gerejanya dan membantu saya untuk lebih mengenal Allah.

Satu setengah tahun setelah itu kami memulai kuliah di tempat yang sama dan tinggal bersama dua teman baru yang menghadiri gereja yang sama. Dua teman baru ini mengadakan studi Pendalaman Alkitab di rumah dan lewat studi itu, Firman Allah menjadi sangat jelas bagi saya. Mata saya seolah-olah dicelikkan untuk melihat bahwa Alkitab bukan hanya naskah dengan huruf-huruf yang tertulis tetapi terkandung di dalamnya kata-kata itu kehidupan. Buat pertama kali, saya melihat Alkitab seperti surat cinta dari Allah kepada kita. Saya sangat menghargai setiap pelajaran di dalam Pendalaman Alkitab itu. Firman saya terima membawa saya ke suatu titik balik dalam kehidupan saya. Saya menjadi mau mencari Allah dengan lebih intens dan serius. Lewat pencarian saya itu, Allah menjadi semakin nyata dalam kehidupan saya. Saya mulai melihat dosa-dosa saya.

Di saat saya membuka hati saya, Allah mulai mengubah saya. Sekalipun saya belum dengan total menyerahkan diri saya kepada-Nya, namun Allah mulai bekerja di dalam diri saya. Saya merasakan Allah memimpin saya langkah demi langkah namun di waktu yang bersamaan Dia memberikan saya kebebasan untuk membuat pilihan, apakah saya mau menyerahkan hidup saya kepada-Nya atau tidak.

Akhirnya di tahun 2011, saya tidak lagi dapat menyangkal kenyataan dan realitas Allah di dalam hidup saya. Saya menyerahkan hidup saya lewat baptisan kepada Allah. Tentu saja perjalanannya tidak sederhana; Allah banyak menginsafkan saya akan dosa-dosa saya dan terdapat bagian-bagian di dalam kehidupan saya yang harus saya tangani. Saya harus jujur di hadapan Tuhan untuk membereskan semua permasalahan saya. Tetapi di sepanjang proses itu saya mengalami kuasa Allah. Hal-hal yang saya pikir tidak dapat saya lakukan, hal yang bahkan saya rasakan mustahil itu, saya mampu melakukannya dengan kekuatan dan hikmat dari Allah.

Suatu hal yang terdengar sepele tetapi sebenarnya merupakan suatu masalah yang serius adalah saya tipe orang yang tidak suka ditegur. Kesombongan saya membuat saya tidak dapat menerima koreksi. Terdapat seorang teman yang akan menegur saya kalau saya berbuat salah. Namun sekalipun saya tahu saya salah tetapi saya tidak dapat menerimanya. Saya mulai jengkel dan kesal dengan teman ini. Saya tidak menerima opini dan pendapat dia. Orang lain bisa melihat sikap saya yang tidak mengasihi terhadap teman ini. Namun, entah bagaimana saat saya diinsafkan oleh Allah tentang masalah ini saya mendapat kekuatan untuk mengatasinya. Bukannya merasa jengkel, saya malah merasa bersyukur karena mempunyai teman seperti dia. Saya mulai bisa menerima, mengasihi dan mempedulikannya. Dulunya dia orang yang tidak saya senangi tetapi sekarang malah menjadi sahabat baik yang bisa saling membagi. Kami berdua sangat terkesan dengan apa yang telah Allah kerjakan dalam hati kami. Setelah baptisan, saya melihat dengan jelas bahwa semua tegurannya adalah demi kebaikan saya. Dia menegur saya demi kebaikan saya. Kawan memukul dengan cinta, tetapi musuh merangkul dengan bisa. (Ams 27:6 BIS). Tidak mudah untuk memberitahu seseorang kesalahannya. Walaupun sakit tetapi kebenaran tetap harus disampaikan demi kebaikan orang itu. Tergantung kita apakah mau mendengar kebenaran yang menyakitkan atau dusta yang menyenangkan. Persahabatan yang dibangun di dalam Tuhan sangatlah berbeda dari persahabatan dunia.

Menurut saya, hal ini walaupun terlihat sepele tetapi merupakan suatu transformasi hati yang nyata. Ini hanya mungkin karena Allah yang berkarya dalam hati saya. Allah mulai berkerja di dalam hidup saya. Yang saya alami bukan lagi persoalan agama, tetapi jauh lebih dari itu. Sekarang adalah persoalan mengenal Allah Yahweh dan mempunyai suatu hubungan dengan-Nya. Lewat hubungan yang hidup ini, saya diubahkan terus menerus. Kekuatan untuk mengatasi kelemahan menjadi semakin bertambah dan pribadi saya mulai diubahkan. Saya merasakan kebebasan untuk berbuat baik dan menginginkan yang baik. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, saya ingin menghimbau orang yang sedang mencari untuk mempunyai keberanian untuk mengecapi dan melihat sendiri siapa Allah itu.

Setelah mengecapi dan Anda menemukan Allah itu tidak baik, Anda bisa saja melupakan semua urusan ini dan melanjutkan kehidupan Anda sesuai keinginan Anda. Setidaknya berikan Allah kesempatan dan Anda akan melihat betapa bedanya kehidupan Anda nanti. Saya mengalami transformasi. Barangsiapa yang telah menyerahkan hidup mereka kepada Allah, telah mengalami hal yang sama. Seolah-olah terjadi suatu kelahiran yang baru. (Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang – 2 Korintus 5:17 ITB) Hal ini dapat Anda alami sendiri. Berikan Allah kesempatan untuk menunjukkan bahwa Dia sangat mempedulikan Anda.

Saya bersyukur kepada Allah untuk penghargaan dan kesempatan untuk berjalan bersama Dia. Walaupun berjalan di jalan Allah tidak selalunya mudah, tetapi dengan penyertaan-Nya kita akan dapat bertahan sampai kesudahannya. Saya tinggalkan ayat ini untuk Anda: "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! (Mzm 34:8 ITB)
Sumber: Cahaya Pengharapan Ministries www.cahayapengharapan.org

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Kidung Online | Debrian Ruhut Blog | IL Cantante Choir
Copyright © 2013. Catatan Dari Meja Pendeta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger