Home » , , » Pemberian Spesial dari Tuhan (Kesaksian Hidup)

Pemberian Spesial dari Tuhan (Kesaksian Hidup)

Ditulis Oleh Admin pada Minggu, 21 September 2014 | 07:51

oleh Pearl B.
Saya bersama suami dan anak saya yang berumur 10 bulan berangkat meninggalkan Jakarta menuju Singapura pada bulan Juli 1990. Kami adalah orang asing di negara asing dan kami tidak mengenali siapa pun di sana. Tiga bulan setelah menetap di Singapura, saya menemukan diri saya hamil, suatu hal yang tidak kami rencanakan tetapi saya yakin itu rencana Tuhan bagi kami.

Mendekati bulan ketujuh, saya merasa tidak enak badan dan diberitahu doktor bahwa bayi saya akan dilahirkan lebih awal dari yang diperkirakan. Dan itulah yang terjadi, anak saya dilahirkan prematur. Saat dilahirkan, saya hampir tidak mendengar suara tangisannya. Doktor kemudian memberitahu kami bahwa paru-parunya belum berkembang sepenuhnya, dan terdapat infeksi di paru-parunya yang membuatnya tidak dapat bernapas dengan normal. Bayi itu harus dirawat secara khusus dan biayanya $1000 dolar per hari. Saat saya menjenguknya di ruangan perawatan intensif, kelihatan begitu banyak selang yang dipasang melalui hidung dan mulutnya, dan ia menangis dalam kesakitan. Saya begitu rindu untuk meggendong bayi itu tetapi saya hanya diizinkan untuk membelai kepalanya. Rasa takut mulai menghantui saya, dan saya mulai ragu, "Apakah anak saya akan bertahan melewati cobaan ini?"

Siang dan malam saya berseru kepada Tuhan, memohon agar Ia menyelamatkan bayi saya. Seminggu berlalu dan doktor akhirnya berhasil menyembuhkan infeksi di paru-parunya dan ia diizinkan untuk dipindahkan ke inkubator. Itulah pertama kali sejak ia dilahirkan saya dapat menggendong anak saya. Kata-kata tidak dapat menggambarkan betapa sukacitanya hati saya pada momen itu. Saya begitu yakin Tuhan mendengarkan seruan hati saya dan saya begitu bersyukur kepada Dia.

Pada waktu itu, kami masih belum menggabungkan diri dengan gereja lokal dan sedang mencari sebuah gereja di mana kami dapat bersekutu bersama jemaat Tuhan. Di samping itu, kami juga mencari kehendak Tuhan bagi kami di Singapura. Kami memang sering menghadiri sebuah gereja yang agak besar, dengan jemaat sekitar 400 orang, tetapi tidak ada yang mengenal kami di situ. Kami tidak mendapatkan dukungan dari gereja dan yang dapat kami lakukan hanyalah berdoa agar Tuhan akan berbelas kasihan kepada kami dan membantu kami melewati waktu-waktu sulit itu. Sesungguhnya Allah sangat baik kepada kami dan akhirnya setelah menunggu lama, harinya tiba di mana kami dapat membawa bayi kami pulang ke rumah. 

Pada waktu itu ia kelihatan begitu kecil. Tubuhnya kurus sekali, yang kelihatan hanyalah tulang-tulang yang dibaluti kulit. Hati saya begitu terguris melihat penderitaan dan rasa sakit yang harus ia alami. Bagaimanapun saya bersyukur kepada Tuhan karena mengizinkan dia untuk hidup. Tuhan tahu sebanyak mana yang dapat saya tanggung dan Ia tidak akan membiarkan saya diuji melampaui apa yang dapat saya tanggung. Bayi itu memberikan begitu banyak sukacita kepada kami sekeluarga dan saya bersyukur kepada Tuhan karena mengizinkan saya untuk mengalami kasih-Nya.

Kami menamainya "Brendon", anak yang sangat lucu, manis dan matanya sangat besar. Kebanyakan orang yang memandangnya pasti akan mengagumi wajah yang begitu lucu. Brendon anak yang pendiam dan jarang memberikan kami masalah. Pada ulang tahunnya yang ketiga, sesuatu hal yang tak diduga terjadi. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk campurtangan-Nya di waktu yang tepat, kami menemukan anak kami sepertinya tidak seperti anak-anak yang lain. Seorang psikolog mengkofirmasikan kepada kami bahwa Brendon mempunyai masalah psikologis yang disebut autisme. Sebelum itu kami belum pernah mendengar tentang penyakit ini. Setelah menerima banyak penjelasan kami terkejut saat mengetahui bahwa penyakit ini tidak dapat diobati. Seorang autis hidup di dalam dunianya sendiri; ia tidak dapat bersosialisasi dengan orang lain dan mungkin juga tidak akan dapat berkomunikasi dengan orang lain. Kami diberitahu bahwa ia mungkin harus mendaftar di sekolah khusus untuk mengikuti program interventif, yang biayanya mencapai $1600 dolar per bulan.
Seolah-olah satu mimpi yang indah tiba-tiba ambruk hancur berkecai. Pada saat itu saya langsung menangis, momen yang paling hitam dalam hidup saya. Saya pulang dalam keadaan hancur, untuk waktu yang lama, saya terus menatapi wajah anak saya, tidak saya temukan sedikit pun tanda bahwa ia abnormal. Brendon anak yang sangat cakap dan roman wajahnya tidak ada yang kelihatan tidak normal. Tidaklah mungkin anak saya autis. Saya menangis di hadapan Tuhan. Saya tidak dapat menerima fakta bahwa anak saya autis. Begitu banyak pertanyaan dan keraguan yang timbul di dalam benak saya. Selama dua minggu saya resah dan tidak dapat makan. Saya masih ingat, suami saya juga mengalami depresi. Anak perempuan kami, Sharon, waktu itu berumur 5 tahun dan masih terlalu muda untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Bagaimanapun, saya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya menemukan gereja Christian Disciples Church pada tahun itu (1994). Saya sedang mengalami pergumulan yang sangat berat, bergulat di antara kehendak Tuhan dan kehendak saya sendiri, dan saya tidak dapat memahami mengapa Tuhan memberikan saya tiga tahun yang sangat indah membesarkan anak saya yang lucu, dan kemudian menemukan bahwa ia bukan anak yang normal. Terlalu sakit bagi saya untuk menerima hal yang sedang terjadi. Saya tidak dapat tunduk kepada kehendak Tuhan pada waktu itu karena saya tidak memahami kehendak Tuhan bagi saya. Saya mau meninggalkan iman Kristen saya dan kembali ke cara hidup lama saya. Saya menyalahkan diri saya atas apa yang terjadi kepada Brendom karena saya melahirkan dia. Di sisi yang lain, saya tidak mengerti mengapa Allah yang Pengasih akan mendatangkan begitu banyak penderitaan ke atas umat yang Ia kasihi. Terlalu sulit untuk melihat bahwa Ia Tuhan yang Pengasih yang tidak akan menelantarkan kami.

Saya dengan sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan untuk menyingkapkan kehendak-Nya kepada saya dan Ia melakukannya. Saya membaca sebuah artikel di dalam satu buletin, yang menulis tentang satu kisah mengenai para malaikat Tuhan berdiskusi dengan Tuhan tentang kepada siapa yang harus diberikan bayi yang spesial ini? Jawaban Tuhan adalah bayi yang spesial ini harus diberikan kepada orang yang dapat menghujaninya dengan kasih dan yang kepedulian yang spesial. Pada saat itu juga, saya mengerti bahwa Brendon adalah pemberian yang spesial dari Tuhan dan Ia akan memampukan saya dan suami saya untuk membesarkan dia sesuai dengan kehendak Dia. Roh Tuhan memimpin saya untuk mempelajari kisah kehidupan Ayub. Ayub menderita bukan karena ia berbuat dosa, tetapi semua hal yang jahat yang terjadi di atas hidupnya berada di dalam pengendalian Tuhan. Walaupun ia menderita, tetapi ia tidak menyalahkan Tuhan. firman Tuhan berbicara langsung ke dalam hati saya pada waktu itu dan saya diangkat oleh kuasa kasih Tuhan. Saya begitu terharu dengan kepedulian Tuhan ke atas keadaan saya dan saya tahu bahwa Ia begitu memedulikan saya. Seperti kata-kata-Nya di Roma 8:28, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka ...yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."

Saya bersyukur kepada Tuhan karena memberikan saya pencerahan. Saya memutuskan untuk mengikut Tuhan tidak kira apa yang terjadi. Jauh di dalam lubuk hati saya, saya percaya bahwa kasih karunia Tuhan, kuasa dan kekuatan-Nya akan memampukan saya untuk terus maju. Seperti yang Paulus katakan di Fil. 4,13, "Segala sesuatu dapat kulakukan melalui Kristus yang menopangku." Saya bertekad untuk menjalani hidup yang berkemenangan dengan kekuatan-Nya. Tetapi, saya belum sepenuhnya mematikan manusia lama dan saya terus menerus bergumul dengan pemikiran bahwa penyakit autis Brendon adalah karena saya telah berbuat dosa. Saya dengan penuh kesungguhan berdoa untuk mendapatkan kepastian dari Tuhan. Sekali lagi Tuhan mendengar seruan hati saya dan Ia mengutus seorang hamba-Nya ke rumah saya pada suatu hari. Ia adalah seorang misionaris dan ia mendoakan seluruh keluarga kami pada kunjungan itu. Lewat doa itu, saya dan suami saya memperoleh kepastian dari Tuhan bahwa bukanlah kesalahan kami bahwa kami diberikan anak yang autis. Seolah-olah kami sedang mendengarkan suara Tuhan berbicara langsung ke dalam hati kami dan kami begitu terharu saat Roh Kudus menjamah hati kami. Itulah pertama kali saya melihat suami saya menangis. Kami bersyukur kepada Tuhan untuk jaminan  atas kasih-Nya bagi kami dan bahwa Ia akan menopang kami dan menuntun kami melewati setiap badai dalam kehidupan kami.

Setelah doa itu saya dapat merasakan bahwa Tuhan telah mengangkat semua beban saya. Ia telah mengubah tangisan saya menjadi sukacita; terdapat damai di dalam batin saya, hal yang sudah lama tidak saya alami. Saya berulang kali menaikkan pujian dan syukur kepada Dia. Ia adalah Gembala baik yang telah menuntun saya keluar dari lembah kekelaman. Saya dapat merasakan kasih Allah menyelubungi saya. Walaupun hati saya masih tidak pasti bagaimana membesarkan anak ini, tetapi saya bertekad untuk menyerahkan seluruh keluarga saya kepada Tuhan. Saya tahu Tuhan yang sedang memegang kendali dan hanya Dia yang tahu apa yang ada di depan kami, karena masa depan kami di tangan-Nya. Saya tahu bahwa jalan di depan tidaklah mudah, tetapi jauh di dalam lubuk hati saya, saya yakin bahwa kasih karunia dan kekuatan Tuhan cukup untuk membawa saya melewatinya. Seperti yang dijanjikan di 2 Ko. 12:9, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."

Kami dengan segera mendaftarkan anak kami ke sekolah khusus. Pada waktu itu, ia sama sekali tidak dapat berbicara dan mempunyai masalah perilaku sangat parah. Di beberapa bulan yang pertama, gurunya harus secara pribadi melatihnya untuk duduk dan memberi perhatian pada pelajaran yang diberikan. Brendon  mempunyai rentang waktu perhatian yang sangat singkat dan ia akan terlena dalam dunianya sendiri dan tidak dapat memahami satu pun kata yang diajarkan guru. Ia bahkan tidak tahu namanya sendiri. Kami berusaha dengan keras untuk mengajarkan kepadanya kata "tunggu" dan berbulan-bulan diperlukan sebelum ia memahami arti kata itu. Saya teringat perasaan frustrasi dan amarah saat ia bertingkah di tempat-tempat umum. Mata dari semua arah terarah pada kami seolah-olah kami orang tua yang sama sekali tidak tahu bagaimana mendisplin anak kami. Setiap saat anak saya tidak dapat menunggu dan tak terkendali, saya berseru kepada Tuhan, tetapi Tuhan kelihatannya begitu jauh and Ia tidak datang membantu saya. Saya begitu penuh dengan amarah karena saya merasa saya diuji melampaui kemampuan saya untuk menanggungnya namun firman Tuhan berkata bahwa kita tidak akan diuji melampaui kemampuan kita dan Ia akan memberikan jalan keluar. ( 1 Ko. 10:13) Tetapi di manakah pertolongan-Nya? Di manakah jalan keluarnya? Saya sama sekali tidak dapat mengucap syukur kepada Tuhan. Setiap kali hal itu terjadi, hati saya berdosa, saya menjadi marah dengan Tuhan. Saya telah gagal dalam memahami apa yang sedang Tuhan ajarkan pada saya.

Dalam banyak keadaan, saya kehilangan kendali dan saya tidak dapat menerima peri laku anak saya yang bermasalah itu. Saya hilang kesabaran dalam berhubungan dengan dia karena ia tidak dapat memahami bahkan sepatah pun dari perkataan saya. Disebabkan ketidak-mampuan dia dalam memahami, ia sama sekali tidak dapat menurut perintah. Pernah sekali saya begitu marah sehingga saya merotannya: Saya melempar kursi kecil ke lantai sehingga kursi itu hancur berkecai. Saya masih ingat, Brendon menangis karena kesakitan. Saya merangkulnya dan saya juga menangis bersama-sama dengannya. Saya memberitahu Tuhan bahwa saat saya merotan anak saya, secara fisik ia sakit tetapi rasa sakit saya bahkan jauh lebih lagi, seolah-olah ada pisau tajam yang menusuk menembusi hati saya. Saya tahu saya sudah gagal dan telah jatuh ke dalam pencobaan. Saya berulang kali memohon pengampunan dari Tuhan.

Melalui pimpinan Roh Kudus, saya ikut serta dalam program pelatihan di gereja. Saya mulai memahami apa artinya komitmen. Saya mempelajari tentang pentingnya komitmen total dan tentang bagaimana saya harus menjalani satu kehidupan di mana saya berdiam di dalam Kristus setiap waktu (Yoh. 15), karena di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh.15:5). Saya tahu saya sedang menelusuri satu jalan  yang sangat sukar dan saya harus berani. Dengan kekuatan saya sendiri, tidak mungkin saya dapat melakukan apa-apa. Hanya oleh kekuatan Tuhan saya mampu menang di atas setiap pergumulan rohani. Saya bertekad untuk mencari Tuhan sekali pun saya telah berulang kali gagal dalam pencobaan. Ia adalah penguasa dan kita adalah hamba-Nya. Saya berhenti menuntut bahwa Tuhan harus seolah-olah menjadi hamba saya dan melakukan apa saja buat saya.

Seperti yang saya katakan tadi, anak saya sama sekali tidak dapat berbicara. Kami berkonsultasi kepada seorang ahli terapi wicara. Kami meminta bantuan dari ahli ilmu jiwa dan banyak lagi konsultan pakar dalam banyak bidang. Akhirnya saya menyadari bahwa saya sedang mencari ke merata tempat di dunia untuk mendapatkan solusi bagi masalah anak saya. Kami sudah mengeluarkan biaya yang begitu tinggi untuk mendapatkan sedikit penghiburan bahwa kami sedang berbuat sesuatu untuk anak kami. Saya berkonsultasi kepada begitu banyak guru tentang cara yang terbaik untuk mengajar anak saya dan saya meluangkan hampir seluruh waktu saya untuk menyiapkan materi untuk mengajarnya. Yang saya harapkan adalah saya dapat membuat ia "normal". Kami mengalami begitu banyak kekecewaan karena anak kami masih sama sekali tidak dapat berbicara dan tidak ada perkembangan yang berarti.  Pada saat itulah Tuhan menyingkapkan Diri-Nya kepada saya sekali lagi. Tuhan bertanya kepada saya, "Mengapa kamu mencari mukjizat penyembuhan bagi anak kamu di dalam dunia ini? Akulah jawabannya." Saya tersentak. Sesungguhnya, saya telah ditarik ke dalam dunia, berpikir bahwa penyelesaian kepada masalah saya dapat ditemukan di dunia. Pada kenyataannya, jawaban itu ada di dalam Dia, karena masa depan ada di tangan-Nya dan Ia-lah yang memegang kendali ke atas segala sesuatu.

Sesungguhnya, Tuhan senantiasa baik.  Ia tahu keadaan rohani saya pada saat itu. Saya secara pelahan-lahan sedang dibawa arus dunia dan semakin menjauh dari Dia, namun pada saat yang bersamaan saya pikir saya sedang berada di jalur yang  benar. Bagaimanapun Tuhan tidak meninggalkan saya. Ia memampukan saya melihat bahwa saya harus menyerahkan segalanya kepada Dia dan sepenuhnya berkomitmen kepada Dia. Saya menyadari bahwa komitmen saya kepada Dia harus 100%; tidak ada komitmen yang sebagian yang akan dapat menyelamatkan saya. Saya menyesali segala yang telah saya lakukan dan saya bertobat di hadapan Tuhan sekali lagi. Saya mulai mengalami transformasi yang dihasilkan dari kuasa Tuhan. Yang saya maukan pada waktu itu adalah semakin mengenal Dia dan memahami kehendak-Nya yang sempurna dalam hidup saya. Saya menyerahkan anak dan keluarga saya ke dalam tangan-Nya, saya tahu Tuhan akan menyediakan segala kebutuhan sesuai dengan kehendak dan waktu-Nya.

Saya telah belajar pentingnya kejujuran yang total di hadapan Tuhan. Saya memberitahu Tuhan bahwa adalah di luar kemampuan saya untuk memahami anak saya. Saya memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada saya bagaimana berkomunikasi dengan dia. Secara ajaib, anak saya tiba-tiba mengerti apa artinya kata "tunggu" dan ia mengenal namanya sendiri. Hati saya begitu dipenuhi sukacita walaupun yang ia tahu hanya satu kata. Bagi saya itu sudah cukup untuk menyakinkan saya bahwa Allah itu mampu. Itu satu mukjizat! Sejak dari waktu itu, saya tidak lagi meluangkan semua waktu saya menyediakan materi pengajaran dan saya mengakui di hadapan Tuhan bahwa saya tidak mempunyai kemampuan untuk mengajar anak saya. Saya meminta Tuhanlah yang mengajar anak saya.

Dengan berjalannya waktu, kami diberitahu bahwa adalah tidak mungkin bagi dia untuk dapat berbicara, dan kami harus mengajarnya bahasa isyarat agar kami dapat berkomunikasi dengan dia. Sejak saya mempercayakan anak saya kepada Tuhan, saya tidak lagi mendengarkan pendapat orang lain dan memutuskan untuk mengikuti arahan dari Tuhan. Pada tahun 1996, Tuhan mempersiapkan anak saya untuk perawatan spesial yang dipanggil "Tomatis Treatment" yang membantunya untuk dapat mengucapkan kata-kata. Ada orang tua yang mendaftarkan anak mereka untuk perawatan ini dan hasilnya nol. Sangatlah ajaib melihat satu lagi mukjizat dalam kehidupan anak saya. Ia mulai dapat mengucapkan kata-kata walaupun masih belum jelas. Pada bulan Mei, 1997, ia buat pertama kalinya dapat menyebut kata "Mami". Saya begitu terharu; saya menangis di depan Tuhan karena terlalu sukacita. Itulah hadiah Hari Bunda yang paling berharga pada tahun itu. Sekali lagi, Tuhan telah mengubah duka saya menjadi sukacita. Tak terucapkan perasaan saya pada waktu itu.

Buat pertama kali pada tahun itu juga anak saya mulai makan bersama kami. Selama bertahun-tahun ia hanya mau makan kentang. Ia hanya akan makan kentang goreng dan itu saja, makanan yang lain ditolaknya. Tuhan sangat bermurah hati karena Ia melindunginya. Walaupun hanya makan kentang, Brendon sehat dan kuat. Teman-teman dan keluarga kami tertanya-tanya apa yang dimakannya karena ia terlihat sangat sehat dan kuat. Kami tahu itu hanya karena kasih karunia, cinta dan rahmat Tuhan ke atas anak saya, karena sekalipun dietnya tidak seimbang ia sehat. Pada tahun itu, Tuhan menghapuskan takutnya akan makanan baru dan ia mulai dapat duduk di meja makan dan makan bersama kami. Saya menanti selama empat tahun untuk saat di mana anak kami dapat duduk dan makan bersama kami.  Itu satu lagi mukjizat! Wow! Saya sesungguhnya bersyukur kepada Tuhan karena akhirnya kami sekeluarga dapat duduk bersama dan makan bersama.

Sepanjang tahun itu, saya dapat melihat bagaimana Tuhan menyediakan guru-guru untuk memenuhi kebutuhan anak saya. Beberapa kali kami menemukan guru-guru yang tidak mampu mengajarnya. Di situlah iman kami diuji. Kami harus memandang pada Tuhan untuk pertolongan-Nya dan Ia tidak gagal menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya. Ia mengeluarkan guru-guru itu dan menugaskan guru yang baru untuk mengajar dia. Kami melihat tangan Tuhan bekerja.  Ia mengerjakan segala sesuatu dengan begitu indah. Lebih dari itu, saya melihat bahwa anak saya berkembang dengan baik tanpa saya harus meluangkan waktu untuk mengajar dia. Itu sesungguhnya sesuatu yang luar biasa! Lewat cara yang berbeda-beda, Tuhan mengajarnya.

Tidak lama setelah itu kami melihat bagaimana Tuhan memampukan anak saya untuk berkomunikasi kepada kami melalui tulisan. Pada tahun 1999, kami menemukan bahwa Brendon memiliki karunia ingatan yang luar biasa (photographic memory) terhadap kata-kata. Hanya dengan sekilas pandang ia dapat mencetak kembali kata yang dilihatnya, tidak kira seberapa panjang kata itu. Walaupun ia hanya dapat mengucapkan beberapa kata tetapi ia dapat berkomunikasi dengan kami lewat tulisan. Kami bersyukur kepada Tuhan untuk karunia yang diberikan kepada anak kami. Ia sangat berbakat dalam melukis. Ia akan dengan teliti mencermati lingkungannya dan melukiskan apa yang dilihatnya dengan jelas. Sekalipun secara mental ia punya kekurangan tetapi Tuhan sangatlah baik kepadanya.

Satu tahun setelah itu, Tuhan membuka pita suaranya dan ia dapat berbicara. Ia dengan jelas dapat merangkai satu kalimat pendek. Kami mengajarnya berdoa dan memuji Tuhan. Keinginan hati saya adalah agar anak saya akan tahu bahwa terdapat seorang Pribadi yang telah selama ini secara terus menerus membantunya, memampukan dia untuk melakukan hal-hal yang tidak mungkin di mata dunia. Saya berdoa juga pada hari di mana ia dapat menyaksikan dengan mulutnya sendiri bahwa Tuhan itu nyata.

Sudah hampir 7 tahun sejak kami menemukan masalah psikologis anak saya. Kehidupan rumah tangga kami tidaklah mudah. Saya dan suami mengalami kasih yang sangat unik dan khusus dari Tuhan, yang mendorong kami untuk mengasihi anak kami. Kami telah menjadi saluran kasih Tuhan kepada anak kami. Tanpa kasih karunia dan kekuatan dari Tuhan, kami tidak akan mampu melewati semua kesusahan selama 7 tahun ini. Kami juga bersyukur karena Tuhan memberikan kepada kami seorang putri yang dapat setiap waktu bersabar dengan adiknya. Walaupun ia harus banyak berkorban dan tidak dapat menikmati masa kecil seperti teman-temannya yang lain, namun ia tidak pernah mengeluh dan menyalahkan adiknya. Saya kagum melihat pekerjaan Tuhan di dalam hatinya. Sekalipun ia masih begitu muda tetapi ia dapat memahami dan menanggung semuanya. Saya dapat melihat karya Tuhan dalam hidupnya juga.

Setelah mengalami realitas Tuhan dalam begitu banyak kesempatan, saya memahami mengapa Tuhan menempatkan saya dalam situasi yang sulit ini. Saya mengalami bagaimana Tuhan menguatkan iman saya lewat setiap pencobaan. Secara rohani saya sangat bertumbuh. Jika masalah psikologis anak saya dapat disembuhkan melalui cara dunia, saya pasti sudah menyelesaikan semua masalah saya dengan kekuatan saya sendiri. Sangatlah benar firman Tuhan, seperti yang dikatakan Paulus di 2 Ko.12:9, "karena kekuatan disempurnakan dalam kelemahan... Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." Di saat kita lemahlah kita menjadi saluran kuasa Tuhan, di mana kuasa-Nya dapat dimanifestasi melalui kita agar dunia tahu bahwa Ia adalah Tuhan yang nyata dan hidup.

Dalam menutup sharing ini, saya dan suami saya mau memberikan segala kemuliaan, hormat dan pujian kepada Tuhan kami yang adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan. Amin.

Sumber: Cahaya Pengharapan Ministries www.cahayapengharapan.org

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Kidung Online | Debrian Ruhut Blog | IL Cantante Choir
Copyright © 2013. Catatan Dari Meja Pendeta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger